Arab Saudi Akan Menjadi Tuan Rumah Fashion Week Pertamanya

 

London: Arab Saudi akan menjadi tuan rumah pekan mode pertama dari 10 April yang akan berlangsung di Ritz Cartlon di Riyadh. Acara empat hari akan menampilkan desainer Arab lokal dan nama-nama merek Eropa termasuk Roberto Cavalli dan Jean Paul Gaultier.

“Sejak pengumuman awal yang dilakukan pada bulan Februari, Pekan Mode Arab Riyadh telah mengumpulkan minat yang signifikan dari tamu internasional yang ingin hadir,” kata Layla Issa Abuzaid, direktur Arab Fashion Council, sebuah organisasi nirlaba Dubai yang bertanggung jawab atas acara tersebut.

“Awalnya acara ini seharusnya diadakan pada bulan Februari, acara tersebut akhirnya harus ditunda untuk mengakomodasi semua tamu internasional yang telah mendaftar untuk hadir,” kata Jacob Abrian, kepala eksekutif Dewan Mode Arab. “Kami sangat berterima kasih atas semua kepercayaan dan dukungan yang telah kami terima untuk mewujudkannya.”

Rencana high-profile dan memiliki tingkat pertaruhanan tinggi berupa pekan mode pertama di Arab Saudi, yang bahkan tidak akan pernah terpikirkan oleh siapapun, datang pada saat reformasi yang inovatif di negara itu, yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammad Bin Salman.

Arab Saudi sedang berusaha beralih dari ketergantungan pada pendapatan minyak dan gas dan memposisikan diri sebagai tempat yang dinamis untuk bisnis, perhotelan dan rekreasi.

Para pejabat Saudi telah pergi jauh-jauh untuk menyoroti janji-janji oleh putra mahkota untuk membiarkan wanita mengemudi dan memainkan peran yang lebih besar dalam kekuatan kerja Negara. Sang putra mahkota juga berjanji akan memperluas peluang hiburan untuk mendorong masuknya investasi asing. Perubahan, kata mereka, ada di sekitar kita.

Pekan Mode Arab Riyadh, di mana pertunjukan akan diadakan di malam hari untuk para penonton khusus wanita. Dan  akan datang saat Diana wanita memiliki lebih banyak akses dari sebelumnya untuk seni publik dan tempat hiburan.

Pada bulan Januari, penggemar wanita disambut di stadion sepak bola untuk pertama kali, dan larangan selama beberapa dekade di bioskop diangkat pada bulan Desember.

Sekarang Dewan Busana Arab, yang membuka kantor regionalnya di Riyadh pada bulan Desember, berencana untuk memposisikan Arab Saudi sebagai pusat industri fashion regional yang baru, dan menunjuk Putri Noura Bint Faisal al-Saud sebagai presiden kehormatannya.

Baru-baru ini mereka juga membentuk aliansi dengan British Fashion Council untuk memberikan dukungan dalam membangun infrastruktur yang berkelanjutan untuk industri fashion di Timur Tengah dan 22 negara di Liga Arab.

“Pekan Mode Arab pertama di Riyadh akan menjadi lebih dari sekedar acara kelas dunia,” kata Issa Abuzaid ketika proyek diumumkan.

“Ini adalah katalis yang kami percaya dimana sektor fesyen akan memimpin sektor ekonomi lainnya seperti pariwisata, perhotelan, perjalanan dan perdagangan. Sektor ritel kami termasuk yang paling cepat berkembang di dunia. ”

Pertunjukan mode di Riyadh akan datang pada saat peraturan Arab Saudi yang membatasi pakaian wanita di luar rumah mereka menunjukkan tanda-tanda pelonggarannya.

Dalam sebuah wawancara dengan “60 Menit” di CBS bulan ini, putra mahkota mengatakan bahwa wanita harus dapat memilih apa yang mereka kenakan dan abaya hitam tradisional berupa pakaian longgar adalah hal yang “tidak perlu”.

“Undang-undang sangat jelas dan ditetapkan dalam hukum Syariah (hukum Islam): bahwa perempuan memakai pakaian yang layak dan terhormat, seperti laki-laki,” kata Pangeran Mohammad. “Ini, bagaimanapun, tidak secara khusus menentukan abaya hitam atau penutup kepala hitam,” tambahnya. “Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada wanita untuk memutuskan jenis pakaian apa yang layak dan terhormat yang dia pilih untuk dipakai.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *