MEMBONGKAR KEBISUAN PELECEHAN SEKSUAL

 

Pelecehan Seksual adalah salah satu bentuk kejahatan. Dibandingkan dengan kekerasan seksual lainnya, kasus pelecehan seksual sangat jarang menjadi berita di media massa. Keadaan ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain. Salah satu berita pelecehan seksual yang sempat menyedot perhatian media massa, khususnya TV adalah kasus mantan Presidan AS Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Padahal bila dibandingkan dengan korban dan pelakunya, jumlah korban dan pelaku pelecehan seksual jauh lebih banyak daripada korban dan pelaku kekerasan seksual.  

Sedikitnya berita tentang pelecehan seksual umumnya disebabkan karena korban tidak mengetahui bahwa itu adalah salah satu bentuk tindak kejahatan. Atau seandainya korban tahu pun, belum tentu korban berani melaporkan karena sulitnya mencari bukti pelecehan tersebut. Berbeda dengan tindak kekerasan seksual yang dapat meninggalkan memar pada tubuh korban yang dapat dijadikan saksi bisu, tindak pelecehan seksual biasanya tidak meninggalkan bekas pada tubuh korban. Pelecehan seksual juga biasanya dilakukan saat tidak ada orang lain sehingga tidak ada saksi hidup. Oleh karena tidak mudah mencari bukti apalagi saksi, tindak pelecehan seksual sulit diajukan sebagai tindak pidana.

Pada dasarnya, pelecehan bisa terjadi di wilayah domestik (rumah) maupun di ruang publik (tempat kerja, lembaga pendidikan, sarana transportasi, dan lain-lain). Relasi atasan-bawahan, guru-murid, dosen-mahasiswa, paman-keponakan, dan berbagai bentuk relasi lain yang menunjukkan adanya ketimpangan kekuasaan seringkali menjadi sumber terjadinya pelecehan seksual. Pelaku merasa aman dengan posisi dan perbuatannya, sedangkan korban tak kuasa dan tak berdaya untuk menggugatnya.

Isu pelecehan seksual juga tidak hanya lebih sedikit diberitakan, tetapi isu ini juga lebih sedikit menjadi kajian penelitian. Dari keterbatasan jumlah penelitian yang ada, dilaporkan bahwa mayoritas korban adalah perempuan. Dalam penelitian tentang pelecehan seksual yang terjadi di Hongkong dikabarkan bahwa 79% korban pelecehan adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa ada pula laki-laki yang menjadi korban pelecehan seksual.

Bila dilihat dari dampak yang begitu traumatis terhadap korban, tindak pelecehan seksual sebagai tindak kejahatan perlu diangkat ke permukaan untuk mengurangi bertambahnya korban aksi pelecehan seksual. Dibutuhkan kerja bersama untuk membongkar kebisuan yang kerap menyelubungi kasus-kasus pelecehan seksual. Di sini, lembaga-lembaga pendidikan tinggi memegang peran penting, baik dalam kerangka penyadaran publik maupun melakukan kajian yang lebih mendalam tentang isu pelecehan seksual.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *