Mengambil Hikmah dan Pelajaran Dari Cuitan Twitter Kang Emil

Pagi ini, dunia pemberitaan kembali digelitik dengan masa lalu seorang Cagub Jawa Barat yang tengah menjalani masa kampanye. Dilansir dari http://wow.tribunnews.com/2018/04/26/kicuan-twitter-masa-lalu-yang-menghina-sejumlah-tokoh-kembali-mencuat-ridwan-kamil-minta-maaf, Bandung (27 April 2017).

Ridwan Kamil atau yang biasa kita sapa dengan panggilan khasnya Kang Emil, meminta maaf atas cuitan tweeter masa lalunya yang menyindir pedas beberapa tokoh penting Nasional Indonesia.

Perihal siapa saja tokoh tersebut, Sobol bisa membaca sendiri dengan mengunjungi tribunnews.com. Karena kali ini, kita akan mengambil pelajaran dan hikmahnya saja dari kejadian ini.

Memang benar bila kita diberikan kebebasan untuk mengekspersikan diri melalui media sosial manapun. Apalagi ditengah kemajuan zaman yang serba demokratis ini, segala bentuk gagasan atau pendapat bisa dengan bebas kita utarakan. Asalkan tetap memperhatikan etika dan tatakrama dalam bersosial.

Melihat kejadian yang dialami oleh Kang Emil, kita semua bisa mengambil sebuah pelajaran berharga. Dimana kebebasan tetaplah harus bisa dipertanggung jawabkan, sampai kapanpun itu baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Banyak dari insan media sosial, yang akhir-akhir ini harus berhadapan dengan hukum akibat ulahnya sendiri. Alih-alih menjunjung kebebasan berpendapat, mereka malah menggunakannya untuk menghina dan bahkan memfitnah orang lain. Perilaku seperti ini tentunya sangat tidak pantas untuk ditiru atau dibenarkan apapun alasannya.

Mungkin saat ini kita merasa diri bukan siapa-siapa, sehingga berkata-kata dan berkomentar yang tidak layak di media sosial. Namun kita tidak pernah tahu beberapa masa yang akan datang, komen atau ucapan inilah yang akan menjadi pengganjal kemulusan dan kelancaran karir kita.

Bisa jadi apa yang dilakukan oleh Kang Emil di Twitternya pada masa lampau, menjadi hambatan bagi dirinya untuk maju dan memimpin Jawa Barat menjadi lebih baik. Sangat disayangkan sekali bukan? Jika hanya karena kecerobohan masa lalu, seseorang yang luar biasa hebat, kehilangan simpatisan dan namanya tercoreng di mata publik.

Ingatlah bahwa kita harus senantiasa menjaga pikiran kita dari hal-hal yang negatif dan menyesatkan. Karena, sekesal apapun kita terhadap seseorang, janganlah langsung menumpahkan emosi tersebut secara gamblang apalagi di media sosial. Tempat dimana semua orang berkumpul, untuk sekedar membaca dan menonton apa saja yang lewat.

Walaupun jika kita memang benar mengetahui keburukan atau aib dari seseorang, siapapun orang tersebut. Alangkah baiknya jika kita cukup menjaganya di pikiran kita saja, bukankah Tuhan Yang Maha Esa menjamin, untuk menutup aib seseorang, hanya jika orang tersebut mampu untuk menjaga aib orang lain dan tetap menjadikan hal tersebut rahasia pribadinya?

Dihari Jumat yang penuh keberkahan ini, marilah kita senantiasa menjaga kebaikan hati dan pikiran kita. Agar kita menjadi manusia yang lebih berkualiatas dan bermanfaat bagi orang lain.

Belajar dari pengalaman berharga milik Kang Emil, kita semua harus senantiasa berfikir dan membagikan sesuatu yang bersifat positif dan mendidik. Jangan jadikan kebebasan berpendapat menjadi alasan bagi kita, untuk berbuat hal-hal yang merugikan diri sendiri dimasa yang akan datang kelak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *