Negeri Tirai Bambu Penghasil Teh Mulai Rambah Sektor Pertanian Kopi

Saat media negri ini masih sibuk memberitakan kontoversi makanan rendang dan puisi seorang public figure, Negara lain sudah berlomba menciptakan informasi yang bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan rakyat sebangsanya. Mulai sekarang mari kita berjuang menghasilkan artikel menarik dengan informasi yang lebih bermanfaat, dan tidak hanya sekedar menghibur saja.

Kembali pada China yang mulai mengedepankan para petani kopinya di wilayah Pu’er. Pu’er tetap identik dengan teh, tetapi petani melihat peluang lain untuk meningatkan kesejahteraan hidup mereka.

Dillansi dat Time Magazine pada hari ini (Jumat 6 April 2018). Selusin ahli kopi internasional terlihat serius dan berjalan di sekitar meja kayu panjang, berhenti di setiap cangkir kopi panas, kepala mereka menunduk, mengendus dalam-dalam, dan menggoyangkan cangkir tersebut sekali lagi.

Kemudian seruit parau dimulai. Di sisi meja menggantung Yang Fan yang wajahnya terlihat tidak kalah serius, petani kopi ini mengawasi kopinya yng sedang dinilai olhe juri dengan saksama, menunggu putusan tentang panen kopi terakhirnya.

“Ini adalah hasil panen kopi yang paling memiliki kelas internasional yang pernah kami miliki,” kata Samuel Gurel, CEO dari obor Torch Coffee di kota Pu’er, provinsi Yunnan di China barat daya, mengacu pada proses penghitungan hasil olahan kopi mingguan yang ia selenggarakan untuk petani lokal.

Ini adalah pertemuan para kosmopolitan yang bergabung dengan para pecinta industry Kopi, mereka berasal dari Thailand, Guatemala, India, Rusia, Vietnam, Laos, Filipina, Kenya dan lebih banyak negara selain. Mereka datang bersama-sama untuk menilai Pameran Kopi Internasional Khusus Pu’er yang pertama, yang berlangsung dari 28-31 Januari dan menarik lebih dari seribu hadirin.

Acara ini berhasil menyinari reputasi China sebagai produsen kopi terkemuka, di rumah spiritual bagi tanaman teh. Industri yang membengkak bahkan saat tekanan ekonomi menggigit.

“Kopi Yunnan sangat elegan, keasamannya bersih, dan proses pasca panennya memberikan rasa khusus,” kata Srikanth Rao, seorang ahli yang berkunjung dari roaster gourmet Bayar’s Coffee di Bangalore, India. “Beberapa memiliki aroma mentega dan beberapa dengan rasa stroberi.”

Namun, Pu’er tetaplah identik dengan perkebunan tehnya. Kota yang ramai ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang bergelombang yang ditandai dengan perkebunan teh. Dan jaraknya hanya sepelemparan batu dari perbatasan China dengan Laos, dan menghasilkan beragam jenis teh yang dianggap salah satu yang paling halus di China.

Iklim sedang yang dimiliki wilayah Pu’er juga sempurna untuk menanam kopi arabika. Yunnan menyumbang 95% panen kopi Tiongkok, dengan setengahnya berasal dari lansekap yang diselimuti kabut di sekitar Pu’er.

Karena gaya ekonomi milenium China yang cenderung menuntuk kreatifitas dalam berdikari, para petani cepat berpindah dari teh tradisional menjadi terfokus pada pertanian komoditas kopi yang lebih menyegarkan pemasukannya, dan para petani Pu’er berhasil memenuhi permintaan pasokan tersebut.

Saat ini, China adalah produsen kopi terbesar ke-13 di dunia. Beranjak naik dari nol, output panen kopi tiga dekade lalu berkembang menjadi 110.000 ton setiap tahun hari ini.

“Saya dulu menanam jeruk keprok tetapi penyakit merusak tanaman saya,” kata petani setempat Huang Dabao, 51 tahun. “Jadi saya beralih ke kopi karena tidak ada penyakit dan hasilnya sangat stabil.” Dan tentu saja menanam kopi seringkali mendapatkan pujian serius.

Pada bulan April ini, kopi asal China akan dipamerkan sebagai komoditas di acara tahunan Specialty Coffee Expo Seattle. Hal ini mengikuti merujuk pada keberhasilan Starbucks meluncurkan kopi asal Yunnan pertama kalinya tahun lalu, setelah empat tahun bekerja sama dengan petani Yunnan. Pada bulan November lali, Starbucks juga membuka Roastery terbesar di dunia di pusat kota Shanghai yang sangat indah.

“Kopi memiliki potensi besar di China, ”kata Liu Ying, yang menukar hidupnya bekerja di investasi ekuitas swasta di Beijing untuk beralih menjadi penanam kopi di Pu’er lima tahun lalu. “Generasi muda lebih suka minum kopi di kantor ketimbang teh.”

Sebenarnya, kisah tentang kopi di China sudah berusia seabad lamanya, minuman asing berasa pahit ini pertama kali diperkenalkan oleh misionaris Prancis. Dirinya melintasi perbatasan Myanmar sekitar awal abad ke-20 dan sampai di negri China. Kopi tersebut pada saat itu hanya digunakan terutama untuk konsumsi pribadi sang misionaris.

Awal mula keberhasilan komersialisasi kopi di Tiongkok dimulai tepat 30 tahun yang lalu, dan sangat mendapat banyak bantuan dari nama sebuah nama brand yang akrab: Nestlé.

Pada tahun 1988, pemerintah Cina meminta perusahaan multinasional yang bermarkas di Swiss  tersebut, untuk membantu upaya pengentasan kemiskinan dengan menanam kopi di daerah-daerah pedesaan yang letaknya sangat jauh dari perkotaan.

Bermitra dengan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bank Dunia. Pada tahun 1994, petak komersial pertama diluncurkan dan Nestlé telah bekerja sama dengan petani sejak saat itu. Mulai  mendistribusikan bibit tanaman kopi, menawarkan saran praktis hingga menanamkan kode etik tanggung jawab sosial, ekonomi dan lingkungan.

“Telah terjadi transformasi besar,” kata Wouter de Smet, yang telah menghabiskan sepuluh tahun membantu petani di wilayah Pu’er untuk Nestlé. “Saya sudah mengunjungi semua area kopi, dan banyak berfokus pada komunitas desa. Hal ini dilakukan untuk memastikan mereka dapat menghasilkan kopi yang berkualitas, dan menjualnya langsung kepada kami.”

Saat ini, para petani berjumlah 1.448 orangpetani kecil, termasuk perwakilan dari 25 kelompok etnis minoritas seperti Lahu dan Wa, membawa hasil panen mereka ke markas baru Pu’er milik Nestlé.

Sampel dari setiap tas berukurab 70kg yang tiba akan dicatat dan dicicipi oleh para ahli. Kopi yang memenuhi criteria akan dibeli sesuai dengan harga komoditas internasional yang ditetapkan oleh Bursa Efek New York, yang hebatnya lagi dapat dipantau oleh petani secara langsung melalui aplikasiSmartphone. Hal ini dilakukan guna memotong rantai keserakahan para perantara dan memastikan transparansi.

Namun transparansi tidak banyak membantu ketika harga kopi global berada pada rekor terendah. Di gudang kopi milik Nestlé, hanya satu truk yang membongkar biji ketika TIME berkunjung.

Harga saat itu berkisar di 14 rmb ($ 2,20) per kilo dari ketinggian 40 rmb ($ 6,30)  beberapa tahun yang lalu. Dengan biaya produksinya saja sekitar 17-19 rmb, sebagian besar petani yang berasal dari jauh memilih menginap sampai harga naik.

“Beberapa hari kami tidak memiliki apa-apa, kemudian pada hari berikutnya kami memiliki uang dari 300 ton panen karena harga kopi di New York telah meningkat,” kata de Smet.

Ketidakpastian tidak menjadi pertanda baik bagi petani lokal, hal ini menyebabkan banyak petani yang sekarang beralih, dari kopi komersial ke varietas khusus yang dapat mencapai hingga 50 rmb ($ 7,90) per kilo.

“Dengan harga kopi saat ini, saya bahkan tidak bisa memberi makan keluarga saya,” kata petani Yang. “Satu-satunya jalan keluar saya adalah menghasilkan kopi spesial, untuk membuat biji kopi terbaik.”

Untuk melakukan hal itu, buah kopi dari pohon yang sama dipetik dan diolah dengan cara khusus untuk menciptakan rasa dan aroma yang berbeda. Keuntungannya jauh lebih tinggi, harga lebih stabil dibandingkan dengan fluktuasi global kopi komersial. Resikonya terdapat pada biaya produksi dan perawatan yang lebih besar untuk membuat kopi berkelas.

“Sekarang dengan harga kopi berada di posisi terendah selama 10 tahun terakhir, berharap itu tidak berkelanjutan karena di satu sisi menjadi hal yang mengerikan bagi petani kopi, ”kata Gurel. “Di sisi lain, tantangan inilah yang memacu inovasi para petani.”

“Pengolahan pasca panen adalah cara yang paling efektif dan tercepat untuk mempengaruhi kualitas kopi dan juga harga,” kata direktur bisnis Torch Marty Pollack, yang akan membuka sekolah baru di Arab Saudi.

“Jika saya bilang ini adalah kopi Kolombia atau Panama, tak seorang pun akan berdebat dengan saya,” kata Gurel, saat Yang tertawa menjadi seringai lebar. “Ini adalah contoh bagus tentang bagaimana kopi di China  bisa terus berkembang.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *